“Tempoyak Oh Tempoyak, Saksi Bisu Baku Rindu”

Baku Rindu, Baku Cerita, Baku Tempoyak: Kisah Kocak Ustadz Jusman di Palembang

Adalah sahabat terbaikku, Ustadz Jusman.

Ketika lonceng reuni mulai dibunyikan, beliau pun mulai menyusun strategi. Bagaimana caranya agar bisa hadir ke Palembang?

Setelah melalui renungan yang cukup panjang, pertimbangan yang matang, dan tentu saja menggunakan akal sehat, akhirnya keputusan pun bulat:

Berangkat! Ikut reuni ke Palembang. 😂

Alhamdulillah, perjalanan berjalan lancar. Selamat sampai tujuan, berkumpul bersama kawan-kawan, bercengkerama, bergurau dan bernostalgia.

Bahkan, Ustadz Jusman akhirnya menjadi salah satu “bintang” dalam reuni.

Bukan karena ceramahnya.

Tetapi karena kekocakannya! 😂

Kehadirannya benar-benar menambah warna dan membuat suasana semakin hidup.

Namun, dari sekian banyak cerita selama reuni, ada satu kejadian kecil yang justru menjadi cerita paling menggelitik.

Tempoyak!

Ya… tempoyak.

Sebuah oleh-oleh khas Palembang yang sebenarnya merupakan jatah Bang Ibus, ternyata ikut terbawa oleh Ustadz Jusman.

Nah, di sinilah cerita mulai memasuki babak yang luar biasa. 🤣

Setelah sampai pada suatu pertimbangan yang sangat “strategis”, akhirnya dengan berat hati tempoyak tersebut harus direlakan.

Bukan karena tidak suka tempoyak.

Bukan pula karena tidak ingin membawanya pulang.

Tetapi demi keselamatan dan ketenteraman rumah tangga. 🤣

Sebab kalau tempoyak itu sampai dibawa pulang, bisa-bisa bukan lagi sekadar reuni yang menjadi cerita…

Perang Dunia Kedua bisa pecah di rumah! 🤣🤣🤣

Maka, demi mencegah konflik internasional, tempoyak pun akhirnya diberikan kepada tukang becak.

Tempoyak selamat, rahasia aman, dan perdamaian dunia tetap terjaga. 😂🙏

Alasannya sungguh di luar dugaan.

“Kalau tempoyak ini dibawa pulang dan disimpan di rumah, nanti ketahuan kalau sebenarnya bukan pergi tabligh—khuruj tiga hari—tapi habis berangkat reuni!”  🤣🤣🤣

Kalau dipikir-pikir, tempoyak itu memang luar biasa.

Aromanya bisa lebih cepat membongkar sebuah perjalanan daripada orang yang menjalaninya.

Bayangkan kalau tempoyak itu sampai masuk rumah…

Belum sempat tas dibuka, belum sempat cerita dimulai, aromanya mungkin sudah lebih dahulu memberikan “kesaksian”. 🤣

Maka pilihan paling bijak pun diambil:

Tempoyak disedekahkan, rahasia diselamatkan, perdamaian keluarga dipertahankan. 😂😂😂

Selamat jalan, tempoyak…

Jasamu akan selalu dikenang.

Engkau bukan sekadar oleh-oleh.

Engkau telah menjadi saksi bisu sebuah perjalanan reuni sekaligus penyelamat sebuah rahasia kecil seorang sahabat. 😂

Begitulah indahnya persahabatan.

Kadang yang paling membekas dari sebuah reuni bukan hanya foto bersama, bukan hanya perjalanan ke tempat wisata, dan bukan pula sekadar acara yang telah disusun panitia.

Tetapi cerita-cerita kecil yang lahir secara spontan.

Cerita yang mungkin awalnya sederhana, tetapi bertahun-tahun kemudian masih mampu membuat kita tertawa ketika mengingatnya.

Untuk sahabat terbaikku, Ustadz Jusman, terima kasih telah hadir dan menambah warna dalam perjalanan Musi Tour – Baku Rindu.

Terima kasih untuk tawa, cerita dan kekocakan yang engkau tinggalkan.

Tempoyaknya boleh hilang…
Rahasia boleh terselamatkan…
Tetapi ceritanya jangan sampai hilang.
😂🙏

Karena kelak, ketika kita kembali bertemu, mungkin bukan nama reuni yang pertama kali kita ingat.

Bisa jadi seseorang hanya akan berkata:

“Ingat nggak, waktu itu… tempoyak Bang Ibus?”

Dan seketika…

pecahlah tawa satu meja. 🤣🤣🤣

Tempoyak oh tempoyak…
engkau pergi membawa rahasia,
tetapi meninggalkan cerita yang tak akan pernah basi.
😂🙏 ( bang Ibus )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *