“Haji Sulaiman Rasyid: Dari Liwa ke Al-Azhar, Menorehkan Warisan Ilmu untuk Indonesia”

LampungPosta.id, Bandar Lampung — Ada nama-nama yang mungkin tidak lagi banyak disebut dalam percakapan sehari-hari, tetapi jejak pengabdiannya tetap hidup dalam kehidupan generasi setelahnya. Salah satunya adalah Haji Sulaiman Rasyid, ulama asal Liwa, Lampung, yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu, pendidikan, agama, dan negara.

Haji Sulaiman Rasyid bukan sekadar ulama dan penulis. Ia adalah pendidik, akademisi, birokrat, pejuang kemerdekaan, sekaligus tokoh yang meninggalkan warisan keilmuan bagi umat Islam Indonesia.

Lahir di Pekon Tengah, Liwa, pada 1898, Haji Sulaiman Rasyid tumbuh sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan agama. Perjalanan intelektualnya membawa beliau menimba ilmu di Sumatera Barat sebelum melanjutkan pendidikan ke Mesir.

Di Mesir, Haji Sulaiman Rasyid memperdalam ilmu agama dan bahasa Arab. Perjalanan keilmuannya kemudian berlanjut di Universitas Al-Azhar Kairo, Jurusan Takhashus Fiqh atau Ilmu Hukum Islam, yang diselesaikannya pada 1935.

Sekembalinya ke tanah air, ilmu yang diperolehnya tidak hanya disimpan untuk dirinya sendiri. Ia memilih mengabdikan pengetahuannya untuk masyarakat.

Pada 1936, Haji Sulaiman Rasyid dipercaya menjadi Ketua Penyelidik Hukum Agama di Lampung. Kemudian, pada periode 1937–1942, ia tercatat sebagai pegawai tinggi agama pada kantor Syambu pada masa pendudukan Jepang.

Di tengah situasi penjajahan, semangat kebangsaannya tetap hidup. Menjelang kemerdekaan Indonesia, Haji Sulaiman Rasyid turut terlibat dalam perjuangan bersenjata di Kalianda bersama sejumlah tokoh setempat.

Mengabdi untuk Agama dan Negara

Setelah Indonesia merdeka, pengabdian Haji Sulaiman Rasyid semakin luas. Ia ditugaskan ke Departemen Agama Republik Indonesia dan kemudian dipercaya menjadi Kepala Jawatan Agama Republik Indonesia di Jakarta pada 1947–1955.

Ia kemudian mendapat amanah sebagai Kepala Perjalanan Haji Indonesia.

Namun, jabatan dan kesibukan birokrasi tidak membuat kecintaannya terhadap pendidikan berhenti. Haji Sulaiman Rasyid tetap aktif dalam dunia akademik.

Ia menjadi staf ahli Kementerian Agama, terlibat dalam kegiatan akademik di Perguruan Tinggi Agama Islam Jakarta, serta mengajar di PTAIN Yogyakarta.

Pada 1960, Haji Sulaiman Rasyid diangkat menjadi Guru Besar Ilmu Fikih.

Sebuah pencapaian yang semakin menegaskan besarnya kontribusi beliau dalam perkembangan pendidikan dan pemikiran hukum Islam di Indonesia.

Fiqh Islam, Warisan yang Tak Lekang Zaman

Nama Haji Sulaiman Rasyid kemudian semakin dikenal luas melalui karya monumentalnya, Fiqh Islam.

Buku tersebut pertama kali terbit pada 1951 dan menjadi salah satu karya fikih berbahasa Indonesia yang sangat berpengaruh. Buku ini membantu masyarakat, pelajar, dan mahasiswa memahami hukum-hukum Islam dengan bahasa yang lebih mudah dipelajari.

Di balik buku tersebut terdapat perjalanan intelektual yang panjang. Penguasaan bahasa Arab dan ilmu fikih yang diperoleh Haji Sulaiman Rasyid selama menuntut ilmu di Mesir menjadi bekal penting untuk menyusun karya yang mampu menjembatani khazanah hukum Islam dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Fiqh Islam bukan sekadar sebuah buku. Ia adalah warisan ilmu yang membuat pemahaman fikih lebih dekat dengan masyarakat Indonesia dan terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Betapa besar arti sebuah karya ketika penulisnya telah tiada, tetapi ilmunya masih terus dipelajari.

Dan itulah salah satu bentuk keabadian seorang ulama: jasadnya kembali kepada tanah, tetapi ilmunya tetap hidup di tengah manusia.

Membangun Pendidikan di Tanah Kelahiran

Kecintaan Haji Sulaiman Rasyid terhadap pendidikan juga diwujudkan di tanah kelahirannya.

Ia tercatat sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pendirian IAIN Radin Intan Lampung pada 1964, yang kemudian berkembang menjadi UIN Raden Intan Lampung.

Bagi Lampung, jejak tersebut bukan sekadar catatan sejarah. Ia menjadi bagian dari perjalanan panjang pembangunan pendidikan Islam di daerah ini.

Dari tanah Lampung, Haji Sulaiman Rasyid berangkat menuntut ilmu hingga Al-Azhar. Setelah memperoleh ilmu, ia kembali dan mengabdikan dirinya untuk masyarakat serta pendidikan.

Sebuah perjalanan yang patut dikenang oleh generasi hari ini.

Jangan Sampai Kita Melupakan Jasanya

Hari ini, ketika nama-nama tokoh besar sering kali hanya tersimpan dalam buku sejarah, sosok Haji Sulaiman Rasyid seharusnya tidak dilupakan.

Sebab, apa yang diwariskannya bukan hanya sebuah nama, jabatan, atau buku.

Ia meninggalkan ilmu. Ia meninggalkan keteladanan. Ia meninggalkan semangat bahwa pendidikan dan pengetahuan harus diabdikan untuk kepentingan umat dan bangsa.

Haji Sulaiman Rasyid wafat di Bandar Lampung pada 26 Januari 1976 dan dimakamkan di TPU Pakiskawat, Enggal, Bandar Lampung.

Hampir setengah abad telah berlalu sejak beliau berpulang. Namun, karya dan pemikirannya tetap menjadi bagian dari perjalanan intelektual Islam di Indonesia.

Karena itu, mengenang Haji Sulaiman Rasyid bukan sekadar mengenang seorang tokoh masa lalu.

Mengenangnya berarti menghargai ilmu yang telah diwariskannya. Mengenangnya berarti menghormati perjuangan seorang putra Lampung yang telah mengabdikan hidupnya untuk agama, pendidikan, dan bangsa.

Dari Liwa ia melangkah menuju Sumatera Barat.

Dari Sumatera Barat ia menyeberang menuju Mesir.

Dari Al-Azhar ia kembali membawa ilmu.

Dan dari ilmu itulah ia mengabdi.

Haji Sulaiman Rasyid telah lama berpulang, tetapi ilmunya belum selesai berbicara.

Namanya mungkin telah menjadi bagian dari masa lalu, tetapi warisan ilmunya tetap menjadi cahaya bagi generasi yang datang kemudian.

Itulah Haji Sulaiman Rasyid—ulama Lampung yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, pendidikan sebagai perjuangan, dan karya sebagai warisan yang tidak mudah dilupakan. ( Sumber: Wikipedia — diolah dan dikembangkan kembali oleh LampungPosta.id. )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *