Di Lupakan Sayang, Musi Tour–Baku Rindu: Daster Kekecilan, Balon Kabur, Gelas Entah ke Mana

Catatan kocak dari malam dangdut hingga perlombaan pagi

“Musi Tour–Baku Rindu”

LampungPosta.id, Palembang  – Kalau kemarin peserta Musi Tour–Baku Rindu sudah dibuat “mabuk tempoyak” lewat cerita Tempoyak Oh Tempoyak, kali ini ada cerita yang tidak kalah menggelitik.

Judulnya: Di Lupakan Sayang.”

Tapi jangan salah. Yang dilupakan dalam cerita ini bukan cuma sayang. Ada gelas yang entah ke mana, balon yang memilih terbang, daster yang tidak mau diajak kompromi, sampai akal sehat yang sepertinya ikut libur.

Maklum, ini bukan sekadar reuni. Ini adalah pertemuan para alumni IKB PPDS Angkatan 1986–1992.

Usia boleh bertambah, rambut boleh berubah warna, pinggang mungkin sudah tidak selentur dulu, tetapi begitu musik dangdut berbunyi…

Jiwa muda langsung bangkit!

Dua Pendekar Datang Belakangan

Malam Minggu, acara ramah tamah sudah berlangsung meriah. Tawa bersahutan, musik mengalun, dan suasana kangen mulai terasa.

Namun, ada dua pendekar tuan rumah yang belum juga menampakkan batang hidung.

Tak lama kemudian, muncullah Ridwan Bokir, sang “penjaga gawang kebakaran” alias pemadam.

Begitu datang, pelukan pun pecah.

Kerinduan yang bertahun-tahun disimpan akhirnya tumpah juga. Bukan air mata, melainkan pelukan dan tepukan punggung.

Tepukannya cukup keras. Kalau sedikit lebih semangat, mungkin bukan cuma rindu yang keluar, tetapi juga napas.

Belum selesai suasana haru, operator tiba-tiba mengumumkan:

“Perhatian… perhatian… Bang Innaka sudah sampai di gerbang!”

Suasana mendadak seperti final pertandingan.

Bang Innaka masuk, salam-salaman, senyum-senyum, basa-basi sebentar.

Namun, ternyata ada satu kelemahan yang tidak mampu disembunyikan Bang Innaka.

MUSIK DANGDUT!

Begitu musik berbunyi, badan seperti memiliki remote control sendiri.

Belum ada yang memberi aba-aba.

Langsung goyang!

Yang tadinya duduk rapi mendadak berubah menjadi penari profesional. Pinggang bergerak, tangan melambai, kaki ikut bergoyang.

Kalau ada yang melihat dari luar, mungkin dikira sedang berlangsung audisi Dangdut Academy Alumni 86–92.

Pagi Hari: Perlombaan Dimulai, Akal Sehat Dititipkan

Pagi harinya sebelum perjalanan pulang, panitia menggelar berbagai perlombaan.

Nah, di sinilah cerita mulai masuk wilayah yang sulit dijelaskan secara ilmiah.

Perlombaan pertama: ambil gelas!

Aturannya sebenarnya sederhana.

Siapa cepat, dia dapat.

Tetapi peserta reuni rupanya tidak sesederhana aturan perlombaan.

Ada yang cepat tangannya.

Ada yang cepat kakinya.

Dan ada pula yang…

cepat akalnya!

Berbagai trik mulai bermunculan. Kejahilan pun berubah menjadi bagian dari strategi.

Panitia sampai mungkin bingung:

“Ini lomba kecepatan atau ujian praktik kejahilan?”

Yang jelas, suasana menjadi heboh.

Untungnya, tidak sampai ada yang pulang membawa gelas panitia.

Atau jangan-jangan memang ada?

Daster Kekecilan, Balon Malah Kabur

Setelah kaum bapak menunjukkan “kecanggihan strategi”, giliran ibu-ibu turun gelanggang.

Perlombaan menggunakan balon dengan hadiah daster.

Nah, begitu mendengar kata “daster”, semangat ibu-ibu langsung naik dua tingkat.

Isma Karim pun tampil penuh percaya diri.

Namun, masalah muncul ketika daster yang diperoleh ternyata ukurannya terlalu kecil.

Ditarik…

Dipaksa…

Dimasukkan…

Tetap tidak masuk!

Akhirnya, bukan Isma yang menyerah.

Balonnya malah terbang!

😂

Belum selesai peserta tertawa, muncul pula aksi Mahipal.

Dengan penuh percaya diri, Mahipal ikut perlombaan mengenakan kemeja.

Namun, balon ternyata memiliki rencana sendiri.

Bukan menuju tangan Mahipal.

Bukan menuju pelukan Mahipal.

Melainkan…

NAIK KE ATAS GENTENG!

Mungkin balonnya sudah bosan ikut reuni.

Atau mungkin dia ingin pulang lebih cepat melalui jalur udara.

Papi Ridwan Juara, Tapi Balonnya Mana?

Sampailah kita pada bagian paling membingungkan.

Tiba-tiba terdengar pengumuman:

“Papi Ridwan juara!”

Tepuk tangan pun menggema.

Tetapi setelah diperhatikan…

BALONNYA MANA?

Entah hilang ke mana.

Mungkin balonnya sudah kabur sebelum pengumuman juara.

Yang penting, Papi Ridwan tetap juara.

Belum selesai rasa penasaran, muncul pengumuman berikutnya.

Mami Iin juga juara!

Lho…

GELASNYA MANA?

Gelasnya juga tidak terlihat!

😂😂😂

Akhirnya semua sadar bahwa perlombaan Musi Tour–Baku Rindu ternyata memiliki rumus baru:

Gelas boleh hilang. Balon boleh terbang. Daster boleh kekecilan. Yang penting juara tetap diumumkan!

Kalau begini caranya, tahun depan panitia tidak perlu repot menyiapkan gelas atau balon.

Cukup siapkan garis start.

Peserta berdiri.

Lalu siapa yang paling banyak tertawa…

langsung juara!

Karena Reuni Bukan Soal Menang atau Kalah

Di balik semua kejahilan, balon yang terbang, gelas yang menghilang, daster yang kekecilan, sampai joget dangdut yang seolah tidak mengenal usia, sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih berharga.

Ada kebahagiaan karena bisa kembali bertemu.

Reuni bukan sekadar soal siapa yang menang atau kalah.

Bukan pula soal siapa yang paling cepat mengambil gelas atau paling hebat mempertahankan balon.

Kita datang membawa rindu.

Kita pulang membawa cerita.

Dan cerita-cerita lucu seperti inilah yang kelak akan kembali menjadi bahan tertawaan ketika kita bertemu lagi.

Sebab pada akhirnya, yang paling penting dari sebuah reuni bukanlah hadiah yang dibawa pulang, tetapi kenangan yang tidak pernah hilang.

Dan kalau ada satu kesimpulan dari Musi Tour–Baku Rindu, mungkin sederhana saja:

Rindunya ketemu, dangdutnya bergoyang, gelasnya hilang, balonnya terbang… tetapi persahabatan tetap juara! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *