Bukan Sekadar Panitia, Mereka Adalah Keluarga: Kisah Haru di Balik “Musi Tour – Baku Rindu”

Good Job Panitia “Musi Tour – Baku Rindu”, Anda Layak Mendapat Bintang!

LampungPosta.id, Palembang- “Good job panitia Musi Tour – Baku Rindu. Anda layak mendapat bintang!”

Kalimat tersebut rasanya sangat pantas disematkan kepada kawan-kawan Panitia Lokal Palembang yang telah bekerja keras menyukseskan Reuni IKB PPDS Angkatan 1986–1992.

Betapa tidak, di tengah kekhawatiran akan minimnya peserta yang hadir serta berbagai kendala yang muncul menjelang pelaksanaan acara, semangat panitia tidak pernah surut.

Justru dalam keterbatasan itulah terlihat kesungguhan, kekompakan dan rasa tanggung jawab mereka dalam mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.

Kematangan dalam mempersiapkan sebuah agenda besar tentu tidak lahir secara instan. Di balik keberhasilan tersebut ada jam terbang, pengalaman dan tempaan panjang.

Salah satunya lahir dari pengalaman dan pendidikan di Pondok tercinta Darussalam, yang mengajarkan arti kebersamaan, kemandirian, kesederhanaan dan pengabdian.

Ketika Doktor dan Dosen Turun Menyapu

Ada pemandangan yang begitu mengharukan di balik suksesnya kegiatan ini.

Seorang doktor sekaligus dosen tanpa merasa canggung turun langsung menyapu dan mengepel lantai aula. menyiapkan berbagai perlombaan agar peserta berkesan dan bergembira ria Semua dilakukan demi satu tujuan: memastikan acara berlangsung nyaman bagi seluruh peserta.

Tidak kalah mengharukan, seorang wanita hebat yang juga kepala sekolah SMA terlihat menenteng berbagai perabotan masak ke sana kemari.

Ia ikut memastikan kebutuhan dapur dan konsumsi tersedia dengan baik.

Dan sebagai penutup kebersamaan, para peserta juga mendapatkan oleh-oleh khas Palembang berupa pempek yang dibagikan sebagai buah tangan.

Mungkin sederhana, tetapi perhatian seperti inilah yang membuat sebuah reuni terasa begitu istimewa.

Sementara itu, seorang kepala KUA yang rela standby meski jaraknya cukup jauh dari Muara Enim turut membantu memenuhi berbagai kebutuhan ringan peserta.

Mulai dari membuat teh, kopi hingga keperluan-keperluan kecil lainnya.

Tidak banyak bicara, tetapi hadir ketika dibutuhkan.

Kawan yang Kembali Hadir

Ada pula cerita tersendiri tentang seorang kawan yang sebelumnya sempat “menghilang dari peredaran”.

Berkat sambung tali silaturahmi yang dilakukan Sang Maestro Didin, kawan tersebut akhirnya kembali hadir dalam kebersamaan.

Kehadirannya ternyata bukan sekadar untuk meramaikan acara.

Ia benar-benar memberikan pelayanan terbaik kepada peserta, bahkan secara khusus membantu penulis yang sedang terkendala kondisi kesehatan.

Selama 24 jam, ia siap membantu dan memastikan kebutuhan penulis tetap terlayani.

Sebuah bentuk kepedulian yang mungkin terlihat sederhana, tetapi terasa begitu besar maknanya.

Dan kebaikan itu ternyata belum selesai sampai di sana.

Di penghujung perpisahan, ia justru memboyong seluruh rombongan ke rumahnya, menyambut mereka dengan penuh kehangatan serta menyajikan kolak durian.

Tidak hanya itu, para peserta juga dibekali buah tangan berupa tempoyak untuk dibawa pulang.

Inilah bentuk persaudaraan yang tidak dibuat-buat.

Datang sebagai kawan, pulang membawa kenangan.

Semua Turun Tangan

Belum lagi dua orang “nenek-nenek” yang didampingi suaminya.

Mereka pun tidak tinggal diam.

Dengan penuh semangat, turut mempersiapkan berbagai kebutuhan agenda acara.

Kebersamaan semakin lengkap ketika seorang guru sekaligus pemilik yayasan pendidikan terkemuka di Kota Pempek tidak malu-malu mengambil peran sebagai pemandu lagu sekaligus operator sound system.

Tidak ada yang merasa terlalu tinggi untuk membantu.

Tidak ada pekerjaan yang dianggap terlalu kecil.

Semuanya turun tangan sesuai kemampuan masing-masing.

Dari Prabumulih, hadir pula seorang kawan yang begitu lentur dalam berjoget.

Kehadirannya bukan hanya menghibur, tetapi ikut menambah kekuatan, keceriaan dan semangat Panitia Lokal Palembang.

Tawa pun pecah. Suasana menjadi cair. Dan reuni terasa semakin hidup.

Terima Kasih untuk Para Donatur

Di balik suksesnya kegiatan ini, ada pula tangan-tangan baik yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi kontribusinya sangat terasa.

Terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh donatur yang telah dengan ikhlas menyisihkan sebagian rezekinya untuk mendukung terselenggaranya Reuni IKB PPDS 86–92.

Bantuan yang diberikan, berapa pun nilainya, bukan sekadar materi.

Di dalamnya ada kepedulian, keikhlasan dan rasa persaudaraan.

Para donatur telah ikut menjadi bagian dari perjalanan panjang terselenggaranya Musi Tour – Baku Rindu.

Tanpa dukungan dan kepedulian dari berbagai pihak, tentu tidak mudah bagi panitia mempersiapkan seluruh kebutuhan acara hingga dapat berlangsung dengan baik.

Semoga setiap rezeki yang telah disisihkan menjadi amal kebaikan yang berlipat ganda, diberikan keberkahan, kesehatan dan kelancaran dalam setiap langkah kehidupan.

Dari panitia, peserta dan seluruh keluarga besar IKB PPDS 86–92, kami menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh donatur.

Bukan Sekadar Panitia, Mereka Adalah Keluarga

Pada akhirnya, Musi Tour – Baku Rindu bukan hanya tentang sebuah acara.

Bukan hanya tentang berapa banyak peserta yang hadir.

Bukan pula hanya tentang meriahnya kegiatan dan indahnya perjalanan di Palembang.

Inilah sejatinya makna “Musi Tour – Baku Rindu”.

Keberhasilan sebuah reuni bukan hanya diukur dari berapa banyak peserta yang hadir.

Lebih dari itu, keberhasilan sebuah reuni dapat dirasakan dari seberapa besar hati yang dicurahkan agar setiap orang merasa diterima, dihargai dan dianggap sebagai bagian dari keluarga.

Panitia Lokal Palembang telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.

Sebaliknya, dari keterbatasan justru lahir kreativitas, kekompakan dan pengorbanan.

Untuk Kak Didin, Kak Ayen (Munzilin), Cik Nela, Kak Jhon, Hasril Hadi, Sri, Nurbiah, Bang Innaka, Bang Hafiz, Papi Bokir,  serta seluruh kawan-kawan Panitia Lokal Palembang dan peserta yang ikut turun tangan:

GOOD JOB! 

Anda semua layak mendapatkan bintang. ⭐⭐⭐⭐⭐

Terima kasih telah membuat Musi Tour – Baku Rindu bukan sekadar reuni.

Kalian telah mengubah sebuah acara menjadi ruang untuk kembali menemukan persaudaraan, menghidupkan kenangan, berbagi kebahagiaan dan merawat tali silaturahmi.

Palembang mungkin menjadi tempat kita bertemu.

Sungai Musi menjadi saksi perjalanan.

Pulau Kemaro menjadi saksi haru biru.

Namun yang akan terus kita bawa pulang adalah rasa persaudaraan.

Musi Tour – Baku Rindu.
Baku Cerita.
Baku Bahagia.
Baku Peduli.
Untuk Persaudaraan Selamanya ( Bang Ibus )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *