Dr. Muhammad Walidin Dampingi Syekh Abdurrqzak, Perkenalkan Palembang dan Jejak Kejayaan Sriwijaya

LampungPoata.id, Palembang — Perjumpaan budaya dan sejarah berlangsung dalam kunjungan Syekh Abdurrqzak dari Damaskus ke Palembang. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Muhammad Walidin, S.Ag., M.Hum., Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, hadir sebagai penerjemah sekaligus pendamping.

Kehadiran Dr. Muhammad Walidin menjadi jembatan komunikasi sekaligus membuka ruang perkenalan yang lebih luas mengenai Palembang, sejarahnya, serta jejak kejayaan Sriwijaya kepada tamu dari Damaskus tersebut.

Sebagai penerjemah dan pendamping, Dr. Walidin tidak hanya membantu kelancaran komunikasi, tetapi juga memperkenalkan berbagai sisi sejarah dan kebudayaan Palembang yang memiliki posisi penting dalam perjalanan peradaban Nusantara.

Palembang dikenal sebagai salah satu pusat penting Kerajaan Sriwijaya, sebuah kekuatan maritim yang tumbuh dan berkembang di Sumatra sejak abad ke-7 Masehi.

Menariknya, perkenalan Palembang kepada Syekh Abdurrqzak dari Damaskus memiliki titik temu sejarah yang cukup menarik.

Damaskus merupakan pusat pemerintahan Dinasti Umayyah, yang berdiri pada 661 Masehi. Pada masa yang relatif sama, di kawasan Nusantara, Sriwijaya mulai tampil sebagai salah satu kekuatan besar di Sumatra. Keberadaan Sriwijaya antara lain tercatat dalam catatan perjalanan I-Tsing sekitar 671 Masehi.

Dua pusat kekuatan tersebut berada di wilayah yang sangat berjauhan—Damaskus di jantung dunia Islam dan Sriwijaya di kawasan maritim Nusantara. Namun, keduanya berkembang pada era yang hampir bersamaan, ketika jaringan perdagangan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan hubungan antarmanusia mulai semakin luas.

 

Abad ke-7 Masehi dengan demikian menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Asia. Di satu sisi, Dinasti Umayyah berkembang menjadi kekuatan besar di dunia Islam. Di sisi lain, Sriwijaya mulai membangun pengaruhnya sebagai kekuatan maritim di kawasan Asia Tenggara.

Dari Damaskus, pengaruh Dinasti Umayyah berkembang melintasi wilayah yang luas. Sementara dari Sumatra, Sriwijaya memiliki posisi strategis dalam jaringan perdagangan dan pelayaran yang menghubungkan berbagai kawasan Asia.

Namun, perbandingan tersebut tidak dimaksudkan untuk menunjukkan adanya hubungan langsung antara Dinasti Umayyah dan Sriwijaya.

Keduanya lebih tepat dilihat sebagai dua pusat kekuatan yang tumbuh pada zaman yang relatif sama dan menjadi bagian dari jaringan peradaban besar yang berkembang di Asia pada abad ke-7 Masehi.

Dalam konteks itulah, peran Dr. Muhammad Walidin menjadi menarik. Dengan latar belakang keilmuan Bahasa dan Sastra Arab, ia menjadi penghubung komunikasi antara Syekh Abdurrqzak dan masyarakat Palembang sekaligus membantu memperkenalkan kekayaan sejarah serta kebudayaan Nusantara.

Melalui pertemuan tersebut, sejarah Palembang tidak hanya diperkenalkan sebagai sejarah sebuah kota, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan panjang peradaban Asia.

Dari Damaskus ke Palembang, dari Umayyah ke Sriwijaya, perjumpaan ini menjadi ruang untuk saling mengenal sejarah, budaya, bahasa, dan peradaban yang tumbuh di dua kawasan berbeda.

Bagi Palembang, kesempatan tersebut menjadi momentum untuk kembali memperkenalkan jejak kejayaan Sriwijaya kepada dunia, sekaligus menunjukkan bahwa sejarah Nusantara memiliki posisi penting dalam mata rantai peradaban Asia. ( Red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *